Cerita Sex2017 – Sungguh Nikmat Memek Tante Sombong

Tidak ada komentar 1764 views

Cerita Sex2017 – Sungguh Nikmat Memek Tante Sombong | Udara pagi ini terasa sejuk sekali, seakan menyambut baik datangnya hari Minggu ini. Secerah wajah tante Jessy yang tengah bercengkrama dengan bunga bunga di taman. Meskipun nampak angkuh, namun kecantikan wajahnya tak dapat disembunyikan.
Cerita Sex2017 - Sungguh Nikmat Memek Tante Sombong
Cerita Sex2017 – Sungguh Nikmat Memek Tante Sombong | Aku baru saja selesai mandi dan berniat untuk minum teh di teras rumah sambil mnghirup udara pagi yang segar. Akan tetapi mataku melihat tante Jessy tengah asyik menikmati keindahan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cibodas, tante Jessy nampak serius memperhatikan tanaman itu.

”Pagi, tante..” sapaku.

”Hmm..” balasnya tanpa berpaling dari rumpunan bunga.

”Mau aku buatin minum ga tan..?” tanyaku lagi setengah menawarkan jasa.

”Nda usah..” jawabnya juga seraya membelakangiku.

Aku tak melihat tante Inggrid, Hendro ataupun Tina pagi ini. Mungkin mereka sedang lari pagi, pikirku. Aku kembali memperhatikan tante Jessy yang membelakangiku. Mulai dari betisnya yang putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yang lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun terbalut celana pendek, namun terlihat jelas lekukannya. ”Coba dia bisa aku tiduri wanita seperti tante Inggrid ya?” gumamku dalam hati.

Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Jessy terhuyung lemah ingin tersungkur. Dengan cepat aku melompat dan memegangi tubuhnya yang nyaris tersungkur itu, meninggalkan sisa lamunan cabulku. Kurangkul tubuhnya yang mulus dan terlihat lemas sekali.

“Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, seraya memapah tubuh tante Jessy.

“Kepalaku terasa pusing Fan” jawab tante Jessy lemah.

“Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah.

“Akhirnya aku bisa merangkulmu Jes” ucapku dalam hati. Ada sjuta kebahagian di hatiku karena mampu merangkul tubuh si angkuh tersebut.

Setelah berada di dalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Jessy di sofa ruang tamu. Dengan menarik nafas tante Jessy duduk dan brsandar pada sandaran sofa. Setelah itu aku melangkah meninggalkannya sendiri. Tak berapa lama aku kembali dengan segelas air hangat dan mnghampiri tante Jessy yang tengah brsandar disandaran sofa.

“Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yang kubawa. Tante Jessy pun mminum air hngt yang kuberikan.

“Makasih ya Fan..” ucapnya lemah sambil meletakkan gelas di meja yang ada didepannya.

“kepalanya masih pusing ga tan?” tanyaku. Tante Jessy hanya menganggukkan kepalanya.

“Mau dipijatin ga?” tanyaku lagi.

“E, em” jawab tante Jessy perlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku pun segera memijat mulai dari kepalanya dengan perlahan lahan, kemudian dahinya yang dia bilang merupakan pusat rasa sakitnya.

“Wah, knapa tante Fan!?” tanya Tina yang baru saja pulang.

“Tadi si tante hampir jatuh, kepalanya pusing Tin!” jawabku.

”Trlalu capek kali!? ” ujar Tina sambil mlangkah kedapur.

“Dah agak mndingan Fan” jelas tante Jessy dengan mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku.

Terasa hangat dahinya bersamaan dengan rasa hangat yang menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Jessy terasa mnusuk kedua lobang hidungku. membuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dengannya.

“Masuk angin kali tan, dahinya agak anget nih?” jelasku, berupaya memancing agar niatku tercapai.

“Iya kali?“ ujarnya pula, seakan mengerti akan arti ucapanku. Membuatku makin berani lebih jauh.

“Mau dikerikin ga?” tanyaku dengan penuh harap kepadanya.

“Memang kamu bisa!?” tante Jessy balik bertanya. Membuat hatiku terasa berdebar tak karuan.

“Ya bisa… ” jelasku dengan cepat, takut tante Jessy berubah pikiran lagi.

“Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Jessy.

Membuat hatiku berdebar makin cepat. Dengan perlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan pikiran kotorku.

Setelah berada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Jessy pun mrebahkan tubuhnya seraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yang dibawanya. Aku segera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Jessy. Setelah kudapati smua yang kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Jessy yang tengah menanti.

Dengan memberanikan diri aku memintanya untuk melepaskan pakaian yang ia kenakan. Dia pun perlahan melepaskan pakaian yang ia kenakan. Sehingga tante Jessy kini hanya mengenakan bra yang berwarna pink dan celana pendek saja. Ada getaran hangat menjalari sluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Jessy membuka bajunya. Hingga membangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia di taman.

Dengan perasaan yang tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mengusap-usap punggung mulus yang membelakangiku, dengan hati hati sekali.

“Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku.

“Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau.

Yang pasti tanganku segera melepaskan kait tali branya, sehingga membuat branya melorot mnutupi sbagian payudaranya yang bulat dan berisi. Seperti payudara milik gadis kebanyakan. Setelah tiada lagi penghalang di punggungnya, akupun membalurinya dengan minyak gosok. Dan jari jemariku pun menari membentuk garis di punggung tante Jessy.

Sambil sekali kali mataku melirik ke arah payudaranya yang brusaha ditutupi dengan bra dan kedua tlapak tangannya. Tapi hal tersebut membuatku smakin terangsang didorong rasa penasaran. Smentara tante Jessy hanya terdiam seraya mmejamkan matanya yang bulat dan indah.

”Pelan pelan ya Fan..” pintanya masih dengan mata yang terpejam.

Tiba tiba pintu kamar perlahan terbuka, nampak Tina tengah berdiri dimuka pintu.

“Tan aku mau ke depan dulu ya..?” ujar Tina berpamitan seraya matanya melirik kearahku.

“Iya Tin..” balas tante Jessy tanpa berpaling ke arahnya.

Kemudian secara perlahan Tina menutup pintu kembali dan berlalu pergi. Jari tanganku mulai nakal terhadap tugasnya, jariku terkadang nyelinap di bawah ketiaknya berusaha meraih benda yang bulat dan padat berisi yang ditutupinya. Tapi tangan tante Jessy terkadang berusaha mnghalanginya, dengan merapatkan pangkal lengannya.

“Jari kamu nakal ya Fan..” ucap tante Jessy setengah berbisik seraya melirik ke arahku, membuat diriku tersipu malu.

“Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Jessy malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa pelindung lagi.

Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung membuat hatiku berdebar debar mnyaksikan pemandangan tersebut. “Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Jessy tak lagi mnutupit buah dadanya dengan kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku terasa bgitu cepat brdetak dan membuat lemas sluruh prsendianku. penisku brlahan tapi pasti mulai berdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.

“Memang dah selesai ngeriknya Fan..?” tegur tante Jessy mengingatkanku.

Membuat aku segera melanjutkan perkerjaanku yang tertunda sesaat. Hampir seluruh bagian belakang tubuh tante Jessy telah kukerik dan berwarna merah bergaris garis. Hanya bagian bokongnya yang luput dari kerikanku karena terhalang dengan celana pendek serta CD yang dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.
Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dengan perlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Jessy mnundukan kepalanya, sekali sekali trdengar suara tahak dari mulutnya.

“Sudah Fan..” perintahnya, agar aku menyudahi pijatanku.

Dengan perasaan malas aku pun menghentikan pijatanku dan segera membrsihkan sisa sisa minyak dikedua telapak tanganku.

”Cuci tanganmu dulu biar bersih sana..” pinta tante Jessy skaligus perintah.

Aku pun beranjak pergi ke kamar mandi yang memang ada didalam kamar tersebut. Setelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar bersih. Akupun kembali menghampiri tante Jessy yang tengah terlentang di atas ranjang masih dengan keadaan separuh bugil seperti saat aku tinggalkan ke kamar mandi. Hingga payudaranya yang bulat dan berisi nampak membusung besar di dadanya, dengan puting yang berwarna coklat susu.

“Ayo Fan, kamu mau mainin ini kan, Aku juga mau kok dimainin..” ucap tante Jessy sambil meremas salah satu payudaranya hingga putingnya menonjol ke arahku.

Aku pun mendekat menghampirinya dengan perasaan nafsu. Membuat penisku kian berdiri dan mengeras kencang dibalik celanaku. Akupun tak mnunggu lebih lama, segera kuremas payudaranya yang menantang itu. Tante Jessy brgelinjang saat telapak tanganku mendarat dan meremas kedua payudaranya.

“Achh.., iya Fan trussss…” rintihnya perlahan.

Jari jemariku kian liar meremasi seluruh daging bulat yang padat berisi itu. Jariku juga memainkan putingnya yang mulai mengeras.

”Iya.. ayo diisep Fan.., aaaayooo..” Pinta tante Jessy dengan nafas tak teratur.

Akupun segera menjilati dan mengisapi puting payudaranya.

“Aduhhh…, enaaaak, trusss…” desah tante Jessy seraya memegangi kepalaku.

Aku semakin bernafsu dengan puting yang kenyal seperti urat dan menggemaskan. Smentara tante Jessy semakin mendesah tak karuan. Tangan kananku meluncur ke arah selangkangan di bawah pusar, terus menyusup masuk di antara celana dan CD tante Jessy. Hingga jari jariku terasa menyentuh rumput halus yang cukup lebat di dalamnya.

Tante Jessy membuka pahanya tak kala jari telunjukku berusaha masuk ke dalam lobang yang ada di tengah bulu bulu halus miliknya.

“Aowww..” jerit kecil tante Jessy saat telunjukku berhasil memasuki lobang vaginanya.

Dia pun menggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Sementara penisku semakin mengeras hendak keluar dari bahan yang menutupinya. Cukup lama jari telunjukku keluar masuk di dalam vagina tante Jessy, hingga lobang itu mulai terasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Jessy menahan gerakan tanganku dan meminta menyudahinya.

“Aaaachhh.., udaahhh., Fan.., aaachh” rintih tante Jessy. Aku pun menarik tanganku dari balik celananya dan melepaskan putingnya dari mulutku.

“Buka pakaianmu dong, Fan..” seru tante Jessy seraya bangkit dan melepaskan celana pendek serta CDnya. Sehingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah selangkangannya yang baru saja kuobok-obok. Aku pun melepaskan seluruh pakaianku dan bugil seperti dirinya. Dengan senyum manis kearahku, tante Jessy mendekat dan brjongkok tepat di depan selangkanganku.

“Aouw, gede banget..” seru tante Jessy seraya telapak tangannya meraih penisku yang telah berdiri dan keras. Dengan tangan kanan dia memegang erat batang penisku, sedangkan telapak kirinya mngelus elus kepalanya. Hingga kepala penisku terasa brdenyut hangat, kemudian dimasukannya penisku ke dalam mulutnya seraya matanya melirik ke arahku.

“Agghhh..” Aku melengguh tak kala seluruh penisku tenggelam masuk ke dalam mulutnya.

Darahku berdesir hangat menjalari seluruh urat di tubuhku. Aku hanya dapat memegangi kepala tante Jessy, meremas serta mngusap usap rambutnya yang ikal sebahu. Sementara tante Jessy semakin liar, sebentar mengulum dan mengemud seakan dia ingin melumat seluruh penisku.

Ternyata dia lebih buas dari tante Inggrid. Terkadang dia menjilati dari batang hingga lobang kencing di kepalanya.

“Aaaaaaa..” erangku menahan rasa nikmat yang luar biasa.

Terasa tubuhku melayang jauh tak menentu. Entah berapa lama tante Jessy mengemut, menjilat dan mengulum penisku. Yang jelas hal ini membuat tubuhku bergetar dan hampir kejang.

“Gantian dong tan, aku juga mau jilatin vaginamu..” rengekku, hampir tak mampu menahan nafsuku.

Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak-banyaknya. Agar tante Jessy mandi dengan air maniku. Tante Jessy segera bangkit berdiri meninggalkan penisku yang masih berdiri tegak.

Kemudian aku meminta agar dia duduk di kursi tanpa lengan yang ada. Aku pun brjongkok menghadap vaginanya yang dihiasi bulu lebatnya. Kedua kaki tante Jessy tertumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai menjarah vagina yang telah menganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang vagina yang berwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai menjelajahi dan menjilati lorong itu.

“Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh…” desah tante Jessy saat lidahku bermain menjilati lobang vaginanya.

“Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh..” rintihnya pula sambil meremas dan menjambaki rambutku.

Lidahku pun smakin liar dan berusaha masuk lebih dalam lagi.

“Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Jessy tak karuan.

Lidahku berhenti menjilati dinding lobang vagina, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Kujilati klitoris yang berwarna merah dan basah dengan air maninya dan air liurku.

“Aughh..” suara tante Jessy seperti tersedak sambil merapatkan kedua pahanya, hingga menjepit leherku, ketika kuisap klitorisnya.

”Aaaaa..,auwghhh….,yaaaaa..” ucap tante Jessy lirih.

”Udahhh, Fan, udddaah Faannn…” rengek tante Jessy seraya mendorong kepalaku dengan kakinya yang terkulai lemas di bahuku.

Aku pun melepaskan hisapan mulutku pada klitoris tante Jessy dan bangkit berdiri dihadapannya dengan Penis yang masih tegak dan keras. Kemudian meminta tante Jessy agar bangkit dari duduknya. Kini aku yang mnggantikan posisinya duduk dikursi.

Tante Jessy naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, hingga tubuh kami saling brhimpitan. kemudian tante Jessy mmbimbing penisku masuk kelobang vaginanya dengan jarinya.

“Aagghhsss..” rintih kecil tante Jessy ketika penisku masuk menusuk vaginanya.

Tak lama kemudian bokongnya mulai turun naik, menggesek-gesek penisku di dalamnya. Aku pun mengimbanginya dengan memegangi pinggulnya membantu bokongnya turun naik.

“Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fan..”

“Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa..” racau tante Jessy tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan penisku di vaginanya.

“Aauwww, aku ga tahan ne Fan,, aaaauwww, yessss..” rintih tante Jessy seraya menggerakan bokongnya dengan cepat.

Aku pun membalas reaksinya dengan melumat lagi payudaranya..

”Aaaaaawhhh..” erang tante Jessy sambil menekan bokongnya lebih rapat dengan selangkanganku.

Aku pun mengejang menahan tekanan bokong tante Jessy.

“Aaaachhhh..” akhirnya aku tak mampu lagi membendung cairan kental dari dalam penisku.

Kamipun saling brpelukan dengan erat beberapa saat dengan brcampur peluh masing masing. Setelah cukup lama kami berpelukan, kami pun bangkit dengan malas, enggan beranjak dari suasana yang ada. Setelah itu kami pun mandi membrsihkan tubuh kami masing-masing yang basah dengan peluh surga. Akhirnya aku bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Tante Jessy.

author
Penulis: 

    Tinggalkan pesan "Cerita Sex2017 – Sungguh Nikmat Memek Tante Sombong"